KAPTEN BONGSU (3)


Jakarta , SENTANA

Komandan Batalyon Harimau Mengganas Tapanuli, Kapten Bongsu Pasaribu layak memperoleh gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Sayang, “penghargaan” yang diperolehnya baru berupa pengabadian namanya menjadi nama sebuah jembatan, nama sebuah jalan dan sebuah monumen semen berukuran 1 x 1 x 2 meter di Desa Suga-suga, Tapanuli Tengah.

Setelah puluhan tahun, yang membuat hati miris, seorang cucu sang Komandan sampai stres dan sudah 7 tahun terpaksa dikurung dalam kerangkeng besi, dibelakang rumah Kapten setelah gagal ‘mengurus’ gelar Pahlawan Nasional untuk sang kakek. Itu berawal ketika gagal menemui Jenderal Purnawirawan Maraden Panggabean (mantan Pangab) teman seperjuangan kakeknya di kesatuan Harimau Mengganas Tapanuli.

Hasil pantuan SENTANA di Tapteng,

pada peringatan Hari Kemerdekaan, tanggal 17 Agustus. Seorang pria muda duduk seenaknya di sebuah kerangkeng besi berukuran sekitar 1 x 1,5 x 2 meter. Tubuhnya kurus. Jenggotnya tumbuh tak beraturan. Di lehernya menggantung kain-kain dan benda-benda yang sama sekali tak mirip kalung. Pergelangan tangannya dilingkari gelang-gelang yang terbuat dari potongan kain. Pakaiannya lusuh dan dekil, mirip pakaian orang sakit mental yang berkeliaran di sudut-sudut ibukota.

Bau pesing menguar dari kerangkeng besi yang digembok itu. Tumpukan baju-baju butut terletak di sudut kerangkeng, praktis menjadi sarang nyamuk. Tampak ceceran kapas-kapas yang berasal dari bantal yang hancur menghiasi sekitar kerangkeng. Kasarnya, kandang ternak masih lebih ‘layak’ daripada kerangkeng itu. Kerangkeng besi itu terletak di bagian belakang sebuah rumah, yang ternyata rumah kelahiran Kapten Bongsu Pasaribu. Rumah itu sudah separuh hancur. Dinding-dindingnya sebagian sudah roboh. Bukan karena lapuk ditimpa usia, tapi kabarnya karena ‘dihancurkan’ dalam kemarahan. Rumah itu sendiri bisa dikatakan kosong. Kalaupun ada perabot, sudah dalam kondisi setengah hancur.

Pemandangan miris itu terekam saat bersama rombongan Panitia Bedah Buku ‘Gugurnya Kapten Bongsu Pasaribu’, LVRI Tapteng, dan Dandim 0211/TT Letkol Kav Albiner Sitompul, berkunjung ke kampung kelahiran Kapten Bongsu Pasaribu, sang pejuang kemerdekaan RI. Nama pria itu Ramli Hasudungan Pasaribu (37), lulusan SMA kota Medan tahun 2000. Ia cucu dari Raja Johannes Pasaribu, abang kandung Kapten Bongsu. Ramli dikurung di sana karena stres dan depresi, menyusul kegagalannya berkali-kali memperjuangkan kakeknya (Kapten Bongsu) menjadi Pahlawan Nasional. Kata pihak keluarga, ia sudah 7 tahun dikurung di rumah kelahiran kakeknya itu.

“Ia dikurung karena menghancurkan seisi rumah,” kata Ibunya, Tiamsa br Samosir kepada wartawan saat berkunjung ke rumah itu. Menurut pihak keluarga yang mengantarkan rombongan ke rumah itu, Ramli dulunya waras. Setelah mengetahui kisah perjuangan Kapten Bongsu yang masih terbilang kakeknya sendiri, didukung kisah kakek kandungnya sendiri, Raja Johannes Pasaribu, yang tewas ditembak Belanda, Ramli berketetapan hati untuk memperjuangkan gelar Pahlawan Nasional bagi kakeknya.

“Ia pergi ke Jakarta dengan niat menemui Jenderal Maraden Panggabean, meminta agar Kapten Bongsu mendapat penghargaan sebagai pahlawan,” tutur keluarga Kapten Bongsu, yakni Martaulinan Bondar (72), Mutiara Pasaribu (60), Tiamsyah Pakpahan (65), dan anggota keluarga lainnya.

Naas baginya, berkali-kali ke Jakarta , berkali-kali pula ia gagal menemui sang jenderal, yang merupakan atasan Kapten Bongsu semasa bertugas. Bahkan dikisahkan, Ramli sempat diusir aparat saat memaksa mendatangi kantor sang jenderal.

“Mungkin karena saat itu ia datang secara pribadi, tidak membawa rekomendasi dari LVRI atau pemerintah daerah, sehingga ia tidak diterima di Jakarta ,” kata Raja Johan Sitompul, Ketua Panitia Bedah Buku ‘Gugurnya Kapten Bongsu Pasaribu”, kepada wartawan.

Dikisahkan pihak keluarga, setelah berkali-kali gagal mengurus gelar pahlawan untuk kakeknya itu, bahkan merasa diperhinakan karena diusir, Ramli pun stres dan depresi.

“Awalnya, tingkat stresnya tidak begitu parah. Ia hanya sering bertingkah seperti tentara, lari-lari bak prajurit latihan, lalu bilang ke kami, ‘cepat… cepat masuk ke rumah, Belanda mau datang’,” tutur Tiamsyah Pakpahan, sang ibu.

Lama kelamaan, tingkat stres yang diderita Ramli makin berat. Ia mulai mau mengamuk, dan menghancurkan benda-benda di sekitarnya. Puncaknya, ia menghancurkan seisi rumah Kapten Bongsu, hingga dinding rumah pun jebol. Karena dianggap mengganggu, akhirnya sekitar 7 tahun lalu, pihak keluarga sepakat membuat kerangkeng besi, dan memasukkan sang pemuda ke dalamnya.

“Sebenarnya, ia bisa diajak ngomong seperti orang normal. Ia bahkan sering minta dilepaskan. Tapi kadang ia tidak mau makan dan minum, dan kemudian mengamuk,” tutur Tiamsyah dengan mata berkaca-kaca. Saat rombongan mengunjungi kerangkeng besi tempat Ramli terkurung, ‘kewarasan’ pria itu memang masih bisa tertangkap. Ia langsung menyapa Dandim yang mendatanginya. Bahkan, ia bersedia diajak ngobrol, meminta rokok, dan sebagainya.

“Saya ini veteran angkatan laut. Sudah pernah ketemu komandan-komandan negara. Semuanya demi memperjuangkan kemerdekaan tanah air,” katanya dengan gaya santai.

Saat ditawari rokok dan mancis, ia menerima dengan baik. Dan kala Ketua Antar Waktu LVRI Tapteng, Abdul Kahar Tanjung, yang saat itu mengenakan topi veteran, menyalaminya, Ramli kontan ngoceh: “Sudah veteran Bapak sekarang ya!” Pak Tanjung hanya mengangguk.

Namun rombongan tak lama di sana . Usai melihat kondisi cucu sang pejuang, Pak Dandim keluar dan berikutnya mengunjungi rumah kakak ipar Kapten Bongsu, Tio Simbolon (100-an), istri Raja Johannes Pasaribu. Sayang sekali, Tio tidak dapat diwawancarai karena sudah sangat tua. Tubuh tuanya terus menggigil bak orang kedinginan. Pak Dandim merengkuh bahu wanita itu, dan memberi segelas air dingin untuk diminumnya.

Dari rumah Tio, rombongan bergerak ke monumen perjuangan untuk menghormati perjuangan sang kapten, masih di desa yang sama. Untuk menuju ke monumen, rombongan harus melewati sebuah jembatan yang juga bertuliskan nama sang kapten. Tulisannya tidak terlalu besar. Bagi orang yang tidak jeli, tulisan di jembatan itu bisa saja terluput dari penglihatan.

Sekitar 200 meter dari jembatan ke arah bukit, rombongan menemukan monumen perjuangan Kapten Bongsu Pasaribu, Komandan Round I, Harimau Mengganas. Bentuknya empat persegi, ukuran 1 x 1 x 2 meter. Di atas monumen itu, diletakkan patung kepala dengan tangan mengepal. Simbol kematian sang kapten yang tewas dipenggal tentara Belanda di Harakka, Barus, 61 tahun silam. Monumen itu didirikan tahun 1995, atau sekitar 13 tahun lalu.

Monumen itu tidak terlalu mewah. Arealnya sama sekali tidak dipagar. Bahkan di dekatnya, hanya berjarak sekitar 1,5 meter, berdiri sebuah rumah makan. Seandainya ada orang yang tidak punya tujuan khusus untuk melihat monumen, besar kemungkinan monumen itu luput dari perhatian. (son)

Iklan

Penulis: Harian Warta Nasional

Saya, Rekson Hermanto, Pemimpin Redaksi Harian Warta Nasional mengucapkan selamat datang di website harianwartanasional.com. harianwartanasional.com merupakan situs berita online yang secara resmi berdiri pada bulan Agustus 2014, di bawah manajemen PT. Nasional Tritunggal Jayautama (Koran Harian Warta Nasional). Pada dasarnya harianwartanasional.com menyajikan berita dan memiliki konten yang selaras dengan koran Harian Warta Nasional. Namun, berita yang dikemas dalam portal berita ini lebih mengarah kepada pembaca yang ingin membaca berita secara cepat, akurat, dan efisien dalam hal waktu. Berita dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi lebih pendek dan lebih mudah dinikmati para pembaca di internet. Kami berbenah dengan menyuguhkan kepada pembaca yang budiman berita berita aktual, tajam, kristis dan terpercaya dan terus berupaya melaksanakan pembaruan dalam berbagai bidang pemberitaan yang profesional, guna membentuk jati dirinya sebagai “Jurnalist Tangguh”. Hal ini terkait dengan amanat UU PERS No 40 Tahun 1999 yang telah menempatkan posisi dan fungsi “Jurnalis Tangguh” sebagai sosial kontrol yang bebas dari pengaruh pihak manapun, Independen”. Oleh karena itu, keberadaan Website harianwartanasional.com mengimformasikan data yang tersaji di dalamnya dan diharapkan bisa membantu kita semua untuk lebih memahami peran, posisi, serta fungsi Jurnalis, dalam upaya penegakan hukum di negara kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s