Kepala SMAN 2 Sadang, Purwakarta Dituding Lecehkan Surat Edaran Kadisdipora


MASIH TERIMA FEE BUKU
Kepala SMAN 2 Dituding Lecehkan Surat Edaran Kadisdipora

Andrie Chaerul, Kepala Disdikpora
Andrie Chaerul, Kepala Disdikpora
Gaos Suherman, Kepala SMA Negeri 2
Gaos Suherman, Kepala SMA Negeri 2

PURWAKARTA – Surat edaran, Andrie Chaerul, Kepala Disdikpora (Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga) Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, yang ditujukan kepada para kepala sekolah (Kepsek) untuk tidak melakukan praktek jual beli buku dilingkungan sekolah dan di toko-toko bayangan, rupanya tidak disikapi serius oleh Kepala SMA Negeri 2, Sadang, Purwakarta.

Pasalnya, sampai berita ini dimuat, aktifitas jual buku masih terus berlangsung. Akibatnya, Sabtu pekan kemarin sejumlah orangtua murid angkat bicara, mereka menilai, Kepala SMA Negeri 2 segaja tidak patuh aturan alias melecehkan. “ Dari dulu buku LKS dan buku paket dijual di sekolah itu, apa donk namanya, yang saya tahu kepala sekolahnya melecengkan dinas, sindir AN, orangtua murid, kepada wartawan.

Sedangkan, Andrie Chaerul, Kepala Disdikpora, mengatakan, saya yang baru menempati jabatan, Kepala Disdipora tidak tahu menahu ada penjualan buku paket dan LKS oleh pihak sekolah karena belum ada pengaduan masuk. Namun demikian, dirinya berjanji segera menyelesaikan permasalah yang muncul tersebut, meskipun baru beberapa hari saja menduduki jabatan barunya itu.

“Masalah pendidikan kini menjadi kewenangan Disdikpora dan siapapun tidak melakukan intervensi, terhadap dirinya menyangkut kebijakan tentang pendidikan di Kabupaten Purwakarta. Dan apapun informasi yang diterimanya, saya siap membereskan, termasuk banyaknya keluhan tentang penjualan buku dan LKS,” ucap Andrie.

Bahkan, Gaos Suherman, Kepala SMA Negeri 2 Sadang kepada wartawan pun blakblakan mengaku adanya pemberian persentase atau komisi dari hasil penjualan buku-buku yang mencapai 35 persen hingga 60 persen. “Persentase yang diterima dari pengusaha penerbit buku itu dibagi-bagi dengan para guru, itu rejeki guru, karena itu sulit buat saya untuk menyetopkanya,” ujar Gaos Suherman.

Menurut Gaos, jangan sekolah saja yang disalahkan, seharusnya pengusaha penerbit buku juga harus disalahkan. “ Andai pengusaha penerbit buku tidak melakukan loby-loby, sekolah tidak akan berani melakukan kerjasama melalui komite. Kata Gaos melanjutkan, penjualan buku dilakukan tidak langsung oleh guru-guru mata pelajaran, melainkan oleh koperasi. “Dan, sifatnya tidak memaksa,” katanya.

Informasi dari sejumlah murid SMA Negeri 2 menyebutkan, untuk seluruh buku pelajaran itu di SMA Negeri 2, paling tinggi anak sekolah membayar Rp 320 ribu ke koperasi guru. Selain, itu ada juga buku paket di SMA 2 Sadang yang harganya tergantung kesanggupan anak membeli, jika semuanya dibeli itu mencapai Rp 300 ribu, ujarnya.

Sementara itu, sejumlah orangtua murid sangat menyesalkan kebijakan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang setengah hati menindak para kepala sekolah selaku pelaku penerima uang komisi buku untuk kepentingan pribadi. Bupati Dedi Mulyadi dinilai tak pernah serius membenahi dunia pendidikan.

Bahkan tak sedikit orangtua murid menyikapinya dengan isu politik, “ jalan keluarnya hanya satu, jangan pilih Dedi Mulyadi jadi Bupati lagi, dia pembohong, katanya pendidikan gratis, mana…, semua bayar di sekolah. Dari dulu saya keberatan dengan cara beli buku dilingkungan sekolah.Apalagi harga bayarnya sangat tinggi, “ujar Yanto. (Rekson)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s