Pengurusan SIM di Kota Bekasi, Calo Berseragam Kian Marak


Pengurusan SIM di Kota Bekasi, Calo Berseragam Kian Marak

Bekasi, Pelita RAKYAT
Oknum berseragam aparat kepolisian di pintu masuk Polresta Bekasi Kota yang ikut nimbrung cari rezeki sebagai penjual jasa pengurusan SIM menjadi pilihan masyarakat. Pasalnya, pemohon melalui oknum Polisi lebih mudah, sebaliknya lewat Birokrasi sangat rumit dan berbelit-belit.
Pantuan Pelita RAKYAT, oknum Polisi dalam melakukan aksi mencari rejeki tambahan, mereka menunggu warga di pintu masuk Polresta. “Mau bikin SIM A atau C?” tanya seorang polisi kepada dua pemuda yang menemuinya di panggar pintu masuk, sambil tersenyum, salah satu pemuda menjawab, “SIM C.”
Kedua pemuda itu lalu dibawa ke salah satu ruangan. Tak lama, keduanya keluar lalu mengantre di loket permohonan SIM baru dinilai tanpa melakukan tes kesehatan. Setelah memasukkan formulir, keduanya diarahkan ke ruangan untuk difoto. Kemudian, SIM C baru sudah di tangan.
Begitulah mudahnya membuat SIM baru di Polres Kota Bekasi melalui oknum Polisi. Tak hanya membuat baru, perpanjang SIM juga dapat perlakuan sama.
Bahkan, ada anggota berseragam yang terang-terangan menawarkan jasa kepada setiap pemohon yang datang. Adapula yang sembunyi-sembunyi bertransaksi di warung-warung di sekitar Polres. Untuk tarif yang ditetapkan oknum Polisi tentu jauh di atas tarif resmi. Pembuatan SIM A baru dikenakan tarif Rp 405.000 dan SIM C Rp 385.000. Adapun perpanjang SIM A Rp 210.000 dan SIM C Rp 200.000. Tarif itu bisa kurang? “Nggak bisa. Dari dalam sudah nggak bisa nego,” kata salah seorang oknum Polisi.
Berapa tarif resmi? Untuk pembuatan SIM A baru dikenakan biaya Rp 120.000 dan SIM C Rp 100.000. Adapun perpanjang SIM A dikenakan biaya Rp 80.000 dan SIM C Rp 75.000. Tarif itu belum termasuk biaya tes kesehatan sebesar Rp 22.000 dan asuransi Rp 30.000.
Sedangkan jika pengurusan SIM lewat Birokrasi, rumitnya minta ampun. Kerumitan yang mereka alami, misalnya, untuk perpanjang SIM, setiap pemohon harus mendaftar di loket tes kesehatan untuk menguji apakah pemohon buta warna atau tidak. Setelah lulus uji kesehatan mata, pemohon kemudian membayar biaya pembuatan SIM di loket Bank Rakyat Indonesia (BRI), lalu pindah ke loket pembayaran asuransi. Setelah itu, pindah lagi ke loket pengambilan formulir permohonan. Setelah diisi, formulir itu lalu dimasukkan ke loket lainnya.
Pemohon lalu bergerak ke loket lain lagi untuk mendaftar pemotretan. Setelah difoto, pemohon harus menunggu proses pencetakan SIM. Terakhir, setelah SIM jadi, pemohon harus mengantre di loket pengambilan kartu asuransi. “Ribet banget harus pindah-pindah loket. Kenapa enggak dibuat satu pintu saja biar mudah. Kalau ribet gini yah orang banyak yang milih oknum polisi,” ucap Hendra (32), salah satu pemohon perpanjang SIM C.
Proses pembuatan SIM baru jauh lebih panjang lagi, yakni melalui ujian teori dan praktik. Jika tak lulus, pemohon harus ujian ulang pada waktu yang ditetapkan petugas. Bahkan banyak yang dua kali ujian teori dan dua kali praktik. Berapa lama jika pakai jasa calo? “Bikin SIM A sama C sekaligus satu jam jadi,” ucap oknum Polisi, ditirukan warga pengurus. ( Red/ Berbagai Sumber)

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s