Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyatakan, gerakan terorisme dan radikalisme yang saat ini semakin mengkhawatirkan dan mulai secara berani memasuki lingkup dunia pendidikan harus disikapi serius oleh kalangan yang mengurusi bidang tersebut.
“Apabila tidak diwaspadai dan ditangani dengan benar, gerakan tersebut dapat melahirkan teroris-teroris baru dari kalangan terdidik dan terpelajar,” kata Sekretaris Utama BNPT Marsekal muda Chaerul Akbar, di Bandarlampung, Rabu.
Menurut dia, gerakan separatisme dan radikalisme dapat masuk dan menyusup ke dalam dunia pendidikan melalui bungkus fanatisme agama.
Dia menjelakan, dapat masuknya gerakan radikal yang berujung pada terorisme ke dunia pendidikan dengan leluasa merupakan kegagalan pendidik dalam melaksanakan fungsi tugasnya, karena kurangnya pembekalan terhadap guru terkait hal tersebut.
“Guru sebagai garda terdepan memiliki kewajiban moral untuk mengajar dan mendidik muridnya berprilaku baik, perlu dibekali bagaimana mengantisipasi hal tersebut,” kata dia.
Menurut dia, peran guru perlu direvitalisasi untuk mencegah murid dan mahasiwanya disusupi oleh gerakan tersebut.
Hal itu diungkapkannya saat menjadi keynote speaker dalam seminar nasional Deradikalisasi, Rabu.
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengadakan Seminar Deradikalisasi dengan tema “Strategi deradikalisasi pada bidang pendidikan di Hotel Novotel Bandarlampung.
Acara tersebut diikuti oleh sekitar ratusan perwakilan akademisi dan kalangan pendidikan di seluruh Lampung, TNI, kepolisian, ormas, organisasi keagamaan, kepemudaan, dan mahasiswa. (ANT)