Inilah Solusi Penanggulangan Banjir Sungai Citarum
Kabupaten Bandung, PelitaRAKYAT
Hampir setiap musim hujan bencana banjir mengancam berbagai kawasan di Jawa Barat. Banjir sering terjadi di kawasan Bandung di bagian hulu dan tengah Sungai Citarum. Akumulasi permasalahan yang menyebabkan banjir di antaranya adalah, penggundulan kawasan hulu, penurunan air tanah akibat penggunaan berlabih, sedimontasi dan buangan sampah ke sungai.
Selain itu posisi geografi kawasan Bandung yang berada I daerah cekungan (bekas Danau Bandung Purba) menyebabkan daerah ini menyebabkan potesi tergenag air yang cukup tinggi. Sedangkan di kawasan hilir, bergabungnya anak-anak Sungai Citarum menyebabkan debit aliran meningkat sehingga terjadi limpasan di kawasan hilir, kondisi ini di perparah engan daerah resapan air berubah menjadi kawsan industri dn permukiman, pegelolaan persampahan dan limbah yang belum memadai serta sedimentasi yang terjadi menghambat aliran air menuju ke muara.
Penanganan banjir adalah tindakan yang haus di laksanakan segera kerenanya, Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Wilayah Sungai Citarum akan memulai pelaksanaan Rehabilitasi Penanggulangan Banjir Sungai Citarum yang menyeluruh dan berkesinambungan dalam tiga tahun, yaitu mulai tahun 2011 hingga 2013, akan melakukan pegerukan meliputi ruas Sungai Citarum sebagai berikut, Ruas Citarum Hulu, sampai hingga Nanjung, dengan panjag 45 kilmeter (Kab Bandung dan Kab, Bandung Barat).
Ruas Bandungan Jatiluhur hingga Bandung Curug, dengan panjang 9,5 kilometer (Kab Purwakarta dan Kab Karawang). Ruas Walahar hinga Muara Gembong, Untuk Kabupaten Karawang meliputi Desa Walahar, Desa Kuta Ampel Desa Tanjung Mekar dan Desa Tanjung Pakis. Untuk Kabupaten Bekasi meliputi Desa Laban Sari, Desa Karang Segar, Desa Jaya Sakti, Desa Pantai Mekar, Desa Pantai Bakti dan Desa Pantai Bahagia. Pekerjaan untuk kedua kebupaten tersebut total panjangnay 125 kilometer. Total panjang pekerjaan ini yaitu 180 kilometer dengan pendanaan melalui APBN murni, dengan total anggaran pelaksanaan tahun jamak (multi –years ) yaitu Rp 1,2 Trilliun.
Diharapkan dengan rehabilitas penanggulangan banjir ini dapat meningkatkan kapasitas dan memperlancar aliran Sungai Citarum. Serta mengurangi luas genangan yang di harapkan dapat mencapai 20,000 hektar. Pemulihan Sungai Citarum Butuh Terpadu, Menteri Pekerjaan Umum (PU),Ir.Djoko Kirmanto, Dipl.HE, pada acara Hari Air Dunia yang di selenggarakan di kentor kementerian PU, awal Mei 2011 lalu menyerukan untuk pemulihan DAS Citarum menjadi DAS yang sehat.
Pemulihan Sungai Citarum harus di lakukan secara terpadu dan menyeluruh, Untuk memulihkan Sungai Citarum di perlukan penanganan struktural dan non-struktural. Yang tidak dapat di lakukan oleh satu atau dua lembaga atau hanya oleh pemerintah saja. Sejak beberapa tahun lalu pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan dalam serangkaian dialok telah menghasilkan Citarum Roadmap,yaitu suatu rancangan strategis berisi hasil identifikasi prokram-prokram utama untuk meningkatkan sistim pengelolaan sumber daya air dan memperbaiki kondisi di sepanjang aliran Sungai Citarum.
Sebagaimana kebutuhan penanganan yang teah teridentifikasi dalam Citarum Roadmap, salah satu penanganan dan pemulihan Sungai Citarum secara terpadu yang di lakukan oleh pemerintah adalah program Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu di wilayah Sungai Citarum atau (integrated Citarum Water Resources Management and investment program – ICWRMIP).
Koordinasi perencanaan program di lakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Citarum Kementerian Pekrjaan Umum dengan melibatkan kementerian terkait (Kementerian Pertanian, Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kesehatan) dan pemerintah daerah tingkat Provinsi dan kabupaten/Kota, kalangan LSM. Komunitas dan swasta Pengelolaan sumber daya air terpadu di wilayah Sungai Citarum juga telah menjadi suatu rencana induk, sebagai prioritas nasional yang dilaksanakan 2010 hinga 2025.
Kementerian Pekerjaan Umum mengharapkan adanya peran serta aktif berbagai pemangku kepentingan. Baik dari tingkat pusat, maupun tingkat daerah. Di tingkat pusat, kordinasi lintas sektor sebagai mana yang dalam program ICWRMIP di harapkan dapat terus berjalan dan ditingkatkan. Sedangkan I tingkat Propinsi Jawa Barat, di harapkan agar Gubernur Jawa Barat dengan segenap jajarannya dapat menjadi pemimpin utama untuk pemulihan Sungai Citarum, bekerjasama dengan instansi dan dinas terkait,pihak swasta serta masyarakat.
PERAN MASYARAKAT DALAM PEMULIHAN SUNGAI CITARUM
Sungai Citarum mempunyai peran yang sangat penting bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat khususnya di Jawa Barat dan DKI Jakarta sungai sepanjang 297 kilometer ini mengalir dari Gunung Wayang hinga bermuara di pantai utara Pulau Jawa di kabupaten Karawang dan Kabupaten Bakasi, merupakan sungai terpanjang dan terbesar di Proinsi Jawa Barat dengan luas kurang lebih seluas 12,000 km2 dan mencakup 12 wilayah administrasi kabupaten/Kota di lingkungan Provinsi Jawa Barat.
Air Sungai Citarum di gunakan sebagai sumber air baku, irigasi pertanian, perikanan, sumber bagi pembangkit tenaga listrik tenaga air (1.400 MW) untuk pasokan Pulau Jawa dan Bali. Serta sebagai pemasok air untuk kegiatan industri.
Menurut data statistik (Data BPS 2009) Populasi penduduk di sepanjang sungai Citarum mencapai 15.303.758 jiwa. Dimana sebagian besar di antaranya merupakan penduduk perkotaan karenanya. Tidak berlabihan jika di dalam pemulihan Sungai Citarum ini, masyarakat merupakan pemangku kepentingan utama yang perannya akan membawa dampak yang begitu besar menuju perubahan positif.
Di dalam pelaksanaan tugasnya, Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWSC) saat ini tidak lagi terfokus pada pembangunan fisik perasarana semata, melainkan pula juga melakukan program pemberdayaan masyarakat yang melibatkan masyarakat daam kegiatan yang mencakup pemeliharaan sungai,konservasi air,penataan sepadan sungai dan mitigasi banjir.
Meskipun sudah di lakukan pengerukan dan rehabilitasi fisik Sungai Citarum, Upaya ini akan sia-sia jika tanpa di sertai dan di dukung oleh upaya bidang lainnya, jika wilayah hulu Sungai Citarum tetap di biarkan kritis tanpa adanya upaya pertanian ramah lingkungan dan penghijauan untuk lahan-lahan kritis, serta pengelolaan limbah rumah tangga dan industri, maka dalam waktu singkat, sungai akan mengalami sdimentasi kembali yang menyebabkan pendangkalan.
Pemulihan Sungai Citarum membutuhkan perhatian, kepedulian dan tindakan nyata oleh seluruh pemangku Kepentingan,meliputi lintas sektor berbagai instansi pemerintah,swasta,akademis, media massa dan masyarakat kepedulian dan tindakan nyata seluruh pemangku kepentingan di wilayah Sungai Citarum akan memberikan konstribusi sangat besar yang nyata untuk pemulihan Sungai Citarum. (Rahmat/Johannes)